Welcome to My Blog........

Kami akan membantu anda untuk menjadi orang sukses, trust it..!!!

Minggu, 18 Desember 2011

METODE PENELITIAN HADITS




1)    Pengertian Hadits.
a)      Hadits Ditinjau dari Segi Bahasa.
Pada garis besarnya pengertian hadits dapat dilihat melalui dua pendekatan, yaitu  pendekatan kebahasaan (linguistik) dan pendekatan istilah (terminologis).
Dilihat dari pendekatan kebahasaan, kata hadits berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata hadasta,yahdutsu hadtsan,haditsan dengan pengertian yang bermacam-macam. Kata tersebut misalnya dapat berarti al-jaddid min al-asy ya’ (sesuatu yang baru), sebagai lawan kata dari kata al-qadim yang artinya sesuatu yang sudah kuno atau klasik. Penggunaan ungkapan hadits al-bina dengan arti jaddid al-bina artinya bangunan baru. Penuturan di atas juga sama halnya dengan apa yang diterangkan dalam kitab mushtola hadits yang ditinjau dari segi bahasanya, hadits berarti al-jaddid (sesuatu yang baru).
Selanjutnya, kata al-hadits dapat pula berarti al-qarib yang berarti menunjukkan pada waktu yang dekat atau waktu yang singkat. Untuk ini kita dapat melihat pada contoh hadits al-‘abd bi al-islam yang berarti orang yang baru masuk islam. Kata al-hadits kemudian dapat pula berarti al-khabar yang berarti ma yutahaddats bih wa yunqal, yaitu sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan atau diberitakan, dan dialihkan dari seseorang kepad orang lain.
Dari ketiga arti kata al-hadits tersebut, nampaknya yang banyak digunakan adalah pengertian ketiga, yaitu sesuatu yang diperbincangkan atau al-hadits dalam arti al-khabar. Hadits dengan pengertian al-khabar ini banyak dijumpai pemakaiannya di dalam al qur’an. Kita misalnya menjumpai ayat-ayat mengandung kata al-hadits dalam arti al-khabar berikut ini :
فليأ تو ا بحد يث مثله ا ن كا نو ا صد قين                     
Artinya : Maka hendaklah mereka mendatangkan khabar(berita ) yang serupa dengan al-qur’an itu jika mereka mengaku orang-orang yang benar. (QS At thur 52;34).
Melihat ayat tersebut di atas, kita dapat memperoleh suatu pengertian, bahwa arti al-hadits dari segi bahasa berarti berita atau khabar, dan tidak menutup kemungkinan kata al-hadits juga bisa berarti al-jaddid (suatu yang baru) atau sesuatu yang menunjukkan waktu yang dekat.

b). Pengertian Hadits Ditinjau dari Istilah.

Selanjutnya, hadits dilihat dari sebi pengertian istilah dijumpai pendapat yang berbeda-beda. Hal ini di antara lain disebabkan karena perbedaan cara pandang yang digunakan oleh masing-masing dalam melihat suatu masalah. Para ulama’ ahli hadits misalnya berpendapat bahwa hadits adalah ucapan, perbuatan dan keadaan Nabi Muhammad Saw.
 Sementara ulama ahli hadits lainnya seperti Al Thiby berpendapat bahwa hadits bukan hanya perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi, akan tetapi termasuk perkataan, perbuatan, dan ketetapan para sahabat dan tabi’in. Dalam pada itu ulama usul fiqh perpendapat bahwa hadits adalah perkataan, perbuatan, dan ketetapan Nabi, yang berkaitan dengan hukum. Sementara itu ulama ahli fiqh mengidentikan hadits dengan sunnah, yaitu sebagai salah satu dari hukum taklifi.
Melihat perbedaan pemahaman di sekitar pengertian hadits dan sunnah. Hadits adalah peristiwa  atau sesuatu   yang disandarkan Nabi Saw, walaupun hanya sekali saja terjadi sepanjang hidup beliau dan walaupun diriwayatkan oleh seorang saja. Sedangkan sunnah adalah suetu istilah yang mengacu kepada perbuatan yang mutawatir, yakni cara Rasulullah Saw, melaksanakan suatu ibadah yang dinukilkan kepada kita dengan amaliyah yang mutawatir pula.
Namun demikian kalangan Jumhur Ulama umunya berpendapat bahwa hadits, sunnah, khabar dan atsar tidak ada perbedaannya atau sama saja pengertiannya, yaitu segala sesuatu yang dinukilkan dari Rasulullah Saw, sahabat atau tabi’in baik dalam bentuk ucapan, perbuatan maupun ketetapan, baik semuanya itu   dilakukan sewaktu-waktu saja, maupun lebih sering dan banyak diikuti oleh para sahabat.

2). Pengertian Metode Penelitian Hadis
Metode berarti cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, atau cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.
Kata penelitian yang berasal dari kata teliti yang artinya cermat, seksama, hati-hati, memiliki arti kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. Sedangkan Moh. Nazir mengungkapkan bahwa penelitian adalah terjemahan dari kata Inggris research. Penelitian merupakan suatu metode untuk menemukan kebenaran, sehingga penelitian juga merupakan metode berpikir kritis. Sehingga metode penelitian hadis dapat diartikan sebagai cara mencari kebenaran dengan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan objektif terhadap hadis sebagai sumber hukum islam untuk membuktikan keautentikannya. Sehingga kita dapat memahami hadis dengan mudah serta dapat menilai kualitas hadis tersebut.

            Nabi Muhammad sebagai figur sentral dalam hadis dan sebagai nabi akhir zaman, secara otomatis ajaran-ajaran beliau berlaku bagi keseluruhan umat dari berbagai tempat. Sementara hadis itu sendiri turun pada kisaran kehidupan Nabi. Di samping itu, tidak semua hadis memiliki asbab al wurud, yang menyebabkan hadis bersifat umum atau khusus.              
            Keberadaan Nabi dalam berbagai posisi dan fungsinya, yang terkadang sebagai manusia biasa, sebagai pribadi, suami, kepala Negara dan lain sebagainya menjadi acuan bahwa untuk memahami hadis perlu dikaitkan dengan posisi Rasulullah pada saat itu. Terdapat beberapa faktor yang menjadikan penelitian hadis berkedudukan sangat penting. Menurut Syuhudi Ismail faktor-faktor tersebut adalah:
1.      Hadis Nabi sebagai salah satu sumber ajaran islam. Kita harus memberikan perhatian yang khusus karena hadis merupakan dasar hukum kedua setelah al Qur’an dan kita harus meyakininya
2.      Tidaklah seluruh hadis tertulis pada zaman Nabi. Nabi pernah melarang sahabat untuk menulis hadis, tetapi dalam perjalanannya ternyata sangat dibutuhkan untuk membukukan hadis.
3.      Telah timbul berbagai masalah pemalsuan hadis
4.      Proses penghimpunan hadis memakan waktu yang cukup lama, karena itu dibutuhkan penelitian hadis sebagai upaya kewaspadaan dari adanya hadis yang tidak bisa dipertanggung jawabkan.
5.      Jumlah kitab hadis yang banyak dengan model penyusunan yang beragam.
6.      Telah terjadi periwayatan hadis secara makna, hal ini dikhawatirkan adanya keterputusan sumber informasinya.

3). Sejarah Munculnya Penelitian Hadis

            Secara historis, sesungguhnya penelitian hadis dalam arti upaya untuk membedakan antara yang benar dan yang salah telah ada dan dimulai pada masa Nabi masih hidup meskipun dalam bentuk yang sederhana. Pada masa ini masih dalam bentuk konfirmasi, yakni para sahabat yang tidak secara langsung mendengar dari beliau, tetapi dari sahabat lain yang mendengarkannya. Mereka kemudian pergi menemui Rasulullah apakah sesuatu benar-benar dikatakan oleh beliau. Dengan demikian, para sahabat dapat secara langsung mengetahui valid dan tidaknya hadis yang mereka terima.
Praktik penelitian hadis dengan pola konfirmasi tersebut berhenti dengan wafatnya Rasulullah. Namun bukan berarti kritik atau penelitian hadis telah kehilangan urgensinya. Pada periode selanjutnya, penelitian hadis lebih bersifat komparatif, yakni tidak hanya mengandalkan kekuatan hafalan belaka namun juga dilakukan perbandingan pada data tertulis yang ada.

           Pada masa selanjutnya, yakni permulaan abad kedua Hijriyah, timbul pemikiran khalifah Umar bin Abdul Aziz al Amawi untuk meneliti hadis dan mengumpulkannya. Untuk itu, khalifah menyurati amil atau gubernurnya dan meminta mereka untuk meneliti dan mengumpulkan hadis karena khawatir akan perkembangan ilmu-ilmu keagamaan serta ulama-ulama habis meninggal dunia. Sehingga para perawi hadis mulai menyusun hadis-hadis yang diriwayatkan menurut babnya dan membukukannya. Pembukuan yang terjadi sekitar tahun 145 H ini masih bercampur dengan ucapan-ucapan sahabat dan tabi’in.
                 Dalam periode selanjutnya timbullah usaha untuk membersihkan hadis-hadis Nabi sehingga tidak bercampur dengan ucapan-ucapan sahabat dan tabi’in. Kitab yang tersusun terkenal dengan nama musnad, diantaranya yang sampai kepada kita adalah Musnad Imam Ahmad bin Hanbal. Kitab tersebut disebut musnad karena didalamnya dikumpulkan menurut sanadnya, tanpa menghiraukan persoalan yang diterangkan dalam hadis tersebut. Misalnya dikumpulkan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar, ‘Aisyah dan lain-lain.

            Kemudian diteruskan dengan periode penyaringan, artinya meneliti mana hadis yang sahih dan mana pula yang dha’if . Orang yang berdiri di barisan paling depan dalam usaha ini adalah Imam Bukhari dengan kitab hadisnya Sahih Bukhari dan Imam Muslim dengan kitab hadisnya Sahih Muslim. Keduanya menjadi pedoman dan pandangan yang kemudian diikuti oleh Abu Daud dengan kitab Sunan Abu Daud, Ibnu Majah dengan kitab Sunan Ibnu Majah, Al Tirmizi dengan kitab Sunan al Tirmizi, Al Nasa’I dengan kitab Sunan al Nasa’i. Kitab-kitab mereka ini dikenal dengan Kutub al Sittah dan bersama dengan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal terkenal dengan Kutub al Sab’ah. Tetapi masih banyak lagi ulama lain yang meneliti dan menghasilkan kitab hadis meskipun tidak mencapai derajat yang tinggi di kalangan umat islam.

           Persoalan yang muncul kemudian adalah apakah otentisitas hadis secara historis dan ilmiah dapat dibuktikan serta bagaimana cara yang harus ditempuh. Sehingga kemudian para ahli hadis tertantang untuk menciptakan ilmu penelitian atau kritik hadis, baik kritik ekstern (al naqd al khariji) yang menyangkut sanad hadis, maupun intern (al naqd al dakhili) yang menyangkut matan hadis.

4). Obyek Penelitian Hadis
           Sebagaimana telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, bahwa obyek penelitian hadis meliputi tiga hal sebagai berikut:
4.1. Rawi Hadits
           Rawi adalah orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa-apa yang pernah didengar atau diterimanya dari seseorang (gurunya). Seringkali sebuah hadis diriwayatkan oleh bukan hanya satu rawi, akan tetapi oleh banyak rawi.
Kritik terhadap periwayatan hadis biasanya mempersoalkan baik dari segi kualitas pribadi atau kelurusan moral (‘adalah) maupun kapasitas intelektualnya (dhabit}). Periwayatan dikategorikan memenuhi segi kualitas pribadi bila telah memenuhi syarat.
4.2. Sanad Hadits
           Adapun sanad adalah jalan yang menyampaikan kita pada matan hadis atau rentetan para rawi yang menyampaikan matan hadis. Dalam hubungan ini dikenal istilah musnid, musnad dan isna>d. Musnid adalah orang yang menerangkan hadis dengan menyebutkan sanadnya. Musnad adalah hadis yang seluruh sanadnya disebutkan sampai kepada Nabi SAW (pengertian ini berbeda dengan kitab musnad). Sedangkan isnad adalah keterangan atau penjelasan mengenai sanad hadis atau keterangan mengenai jalan sandaran suatu hadis.

4.3.    Matan Hadits
           Menurut bahasa, matan artinya sesuatu yang tampak, bagian bumi yang keras dan tinggi. Dalam istilah ilmu hadis, matan adalah materi atau redaksi hadis yang diriwayatkan dari satu orang ke orang lain.
Ditinjau dari cara dalam menyampaikan hadis, terdapat beberapa matan hadis, yaitu:
·         Yang lafal atau setiap katanya persis atau sama dengan lafal pada matan hadis yang lain.
·         Yang antara satu matan hadis dan lainnya hanya terdapat persamaan makna, isi atau tema, sedangkan lafalnya berbeda.
·         Yang antara satu matan hadis dan lainnya saling bertentangan (berbeda), baik lafal maupun maknanya. Keadaan inilah, antara lain, yang menjadi obyek penelitian para ahli guna memperoleh hadis yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan untuk dinisbahkan kepada Nabi Muhammad Saw.

5). Metode Penelitian Hadits.
           Untuk menuju pada penlitian hadis dengan obyek kajian di atas, terdapat beberapa metode yang digunakan, diantaranya sebagai berikut:
5.1.Metode Komparatif
           Metode komparatif atau metode perbandingan atau pertanyaan silang atau silang rujuk(cross reference), dilakukan dengan mengumpulkan semua bahan yang berkaitan, atau katakanlah, semua hadis yang berkaitan, membandingkannya dengan cermat satu sama lain, orang menilai keakuratan para ulama. Menurut Ibn al Mubarak (118-181 H), sebagaimana dikutip Muhammad Mustafa Azami berkata:”Untuk mencapai pernyataan yang otentik, orang perlu membandingkan kata-kata para ulama satu dengan yang lain”.
           Metode perbandingan dipraktikkan dengan banyak cara. Berikut ini adalah sebagian dari cara-cara tersebut:
·         Memperbandingkan hadis-hadis dari berbagai murid seorang shaikh (guru).
·         Memperbandingkan pernyataan-pernyataan dari seorang ulama yang dikeluarkan pada waktu-waktu yang berlainan.
·         Memperbandingkan pembacaan lisan dengan dokumen tertulis.
·         Memperbandingkan hadis-hadis dengan ayat al Qur’an yang berkaitan.

5.2. Metode Rasional
                       Metode rasional merupakan metode yang menggunakan penalaran. Nalar diterapkan dalam kritik hadis pada setiap tahapan, yakni dalam pengkajian hadis, pengajaran hadis, dalam menilai para perawi, dan dalam menilai keotentikan hadis. Tetapi secara ketat, terdapat batas-batas tertentu di sini dalam penggunaan penalaran. Kemampuan penalaran hanya sedikit membantu dalam menerima atau menolak hadis dari Nabi.
           Sebagai contoh, dalam kitab-kitab hadis kita menemukan bahwa Nabi biasa tidur degan berbaring pada lambung kanan beliau, dan sebelum pergi tidur beliau biasa membaca do’a-doa tertentu. Sesudah bangun, beliau juga membaca do’a tertentu. Beliau biasa minum dengan tiga kali nafas dan menggunakan tangan kanannya dalam memegang cangkir dan sebagainya. Secara rasional, orang bisa saja tidur dengan terlentang, berbaring pada lambung kanan atau lambung kirinya. Semua posisi tidur adalah mungkin. Kita tidak bisa mengatakan bahwa posisi tertentu mungki dan posisi lain tidak.
           Dalam kasus ini akal tidak bisa membuktikan kebenaran atau ketidakbenaran. Kebenaran hanya bisa diputuskan melalui saksi-saksi dan perawi-perawi yang terpercaya. Dengan demikian, penalaran sendiri membawa kita untuk menerima pernyataan dari perawi-perawi yang jujur dan terpercaya, kecuali dalam kasus-kasus dimana kita menemukan bahwa kejadian yang bersangkutan bertentangan dengan akal (penalaran).




5.3. Metode Deskriptif Analitis
           Pengertian dari pada Deskriptif Analitis adalah penelitian yang bersifat menggambarkan/menguraikan sesuatu hal menurut apa adanya secara analitik. Dilain pengertian deskriptif analitis bias berarti mendeskripsikan hasil penelitian sedemikian rupa, dilanjutkan menganalisisnya dengan menggunakan pendekatan fikih. Metode ini digunakan oleh H.M Quraish Shihab dengan rujukannya adalah bahan dari kepustakaan dan bahan bacaan itu sendiri. Hasil penelitian Quraish Shihab tentang fungsi hadis terhadap Al qur’an, menyatakan bahwa Al qur’an menekankan Rasul Saw, berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah (Q.S 16:44). Penjelasan atau bayan tersebut dalam pandangan sekian banyak ulama beraneka ragam bentuk dan sifat serta fungsi.
5.4. Metode Eksploratif
           Dalam pengertian Eksploratif dapat diartikan yaitu membahas, mengkaji dan menyelami sedalam-dalamnya berbagai persoalan actual yang muncul di masyarakat untuk kemudian diberikan setatus hukumnya dengan berpijak pada konteks hadits tersebut. Dan metode ini juga di gunakan oleh Muhammad Al-Ghozali karena dilihat dari segi kandungan yang terdapat dalam buku tersebut. Dalam metode ini juga digunakan oleh Mushtofa Al-Siba’iy dengan menggunakan pendekatan historis dan disajikan secara Deskriptif analitis yakni dalam system penyajiannya menggunakan pendekatan kronologi urutan waktu dalam sejarah.
5.5. Metode Lainnya
           Selanjutnya, terdapat pula model penelitian hadis diarahkan pada fokus kajian dan juga penelitian yang ditujukan untuk menemukan bahan-bahan untuk digunakan membangun suatu ilmu. Buku inilah buat pertama kali mengemukakan macam-macam hadis yang didasarkan pada kualitas sanad dan matannya, yaitu yaitu hadis yang tergolong sahih,hasan, da dhoif. Kemudian dilihat pula dari keadaan bersambung atau terputusnya sanad yang dibaginya menjadi hadis musnad, muttasil, marfu’, al-munqatil dll.

6). Hikmah Penelitian Hadits

           Hikmah adanya penelitian hadis diantaranya ialah :
1.  Menambah keyakinan umat islam terhadap keautentikan hadis Nabi
2.  Menjaga keautentikan hadis Nabi
3.  Menunjukkan kehati-hatian umat islam terhadap sumber berita demi menemukan kebenaran.
4. Sebagai pembelajaran bahwa setiap sumber informasi yang disampaikan oleh umat islam harus dapat dipertanggung jawabkan
5. Mengasah nalar kritis umat islam dll.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar