Welcome to My Blog........

Kami akan membantu anda untuk menjadi orang sukses, trust it..!!!

Kamis, 29 Desember 2011

MODEL PENELITIAN PENDIDIKAN ISLAM


A.       Pengertian Pendidikan Islam
Dari segi bahasa pendidikan dapat diartikan sebagai perbuatan mendidik; dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik, atau pemeliharaan badan, batin, dan sebagainya. Dalam bahasa Arab , para pakar pendidikan biasanya menggunakan kata tarbiyah untuk arti pendidikan.
Dar
definisi tersebut dapat diketahui bahwa pendidikan adalah merupakan usaha atau proses yang ditujukan untuk membinakualitas sumberdaya manusiaseutuhnya agar dia dapat melakukan perannya dalam kehidupan secara fungsional dan optimal. Dengan demikian, pendidikan pada intinya menolong manusia agar dapat menunjukkan eksistensinya secara fungsionbal ditengah-tengah kehidupan manusia. Pendidikan yang demikian dapat dirasakan manfaatnnya bagi manusia.
Adapun pengertian islam berasal dari bahasa Arab aslama yuslimu islaman, yang berarti berserah diri, patuh, dan tunduk. Kata aslama tersebut pada asalnya berasal dari salima, yang berarti selamat, sentosa, dan damai. Dari pengertian demikian, secara harfiyah Islam dapat diartikan patuh, tunduk, berserah diri (kepada Allah) untuk mencapai keselamatan. Pengertian Islam dari segi kebahasaan ini sudah mengacu kepada misi Islam itu sendiri yaitu mengajak kepada manusia agar hidup aman, damai, dan selamat dunia akhirat dengan cara patuh dan tunduk kepada Allah, yang selanjutnya upaya ini disebut sebagai ibadah.
Selanjutnya, jika kata Pendidikan dam Islam disatukan menjadi Pendidikan Islam, artinya secara sederhana adalah pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam dengan cirri-cirinya sebagaimana tersebut di atas. Namun, dalam arti yang lebih luas Pendidikan Islam memiliki pengertian yang bermacam-macam.
Pendidikan Islam adalah upaya membimbing, mengarahkan, dan membina peserta didikan yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Tujuan ini secara hirarkis bersifat ideal,bahkan universal. Tujuan tersebut dapat dijabarkan pada tingkat yang lebih rendah lagi, menjadi tujuan yang bercorak Nasional, Institusional,terminal, klasikan, per bidang studi, per pokok ajaran, sampai dengan setiap kali melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
B.       Aspek-aspek Pendidikan Islam
Pendidikan Islam sebagaimana pendidikan lainnya memiliki berbagai aspek yang tercakup di dalamnya. Aspek tersebut dapat dilihat dari segi cukupan materi didikannya, filsafatnya, sejarahnya, kelembagaannya, sistemnya, dan dari segi kedudukannya dari sebuah ilmu. Dari segi aspek materi didikannya, Pendidikan Islam sekurang-kurangnya mencakup pendidikan fisik, agama, akhlak, kejiwaan, rasa keindahan, dan social kemasyarakatan. Berbagai aspek materi yang tercakup dalam pendidikan Islam tersebut dapat dilihat dalam Al-qur’an dan Al-sunnah serta pendapat para ‘Ulama
Dilihat dari segi sejarah atau periodenya, pendidikan Islam mencakup :
1)      Periode pembinaan Islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad SAW. Masa ini berlangsung sejak Nabi Muhammad menerima wahyu yang pertama pada tanggal 17  bulan Ramadlan Sebelum Hijriyyah/6 bulan Agustua 610 M dan menerima pengangkatannya sebagai Rasul, sampai dengan lengkap dan sempurnanya agama Islam menjadi warisan budaya umat Islam yaitu pada waktu wafatnya Rasul pada tanngal 12 Rabi’ul Awwal 11 H/8 Juni 832 M yang berlangsung kurang lebih sekitar selama 23 tahun.
2)      Periode pertumbuhan Pendidikan Islam yang berlangsung sejak zaman Nabi Muhammad wafat sampai masa akhir Bani Umayyah yang diwarnai oleh berkembangnya ilmu-ilmu naqliyyah. Pada masa pertumbuhan dan perkembangannya itu, Pendidikan Islam mempunyai dua sasaran. Pertama, Yaitu generasi muda sebagai generasi penerus dan masyarakat bangsa lain yang belum menerima ajaran Islam; dan kedua, adalah penyampaian ajaran Islam dan usaha Internalisasinya dalam masyarakat bangsa yang baru menerimanya yang di dalam Islam disebut sebagai dekwah Islam.
3)      Periode kejayaan (puncak perkembangan) Pendidikan Islam, yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah sampai dengan jatuhnya Baghdad, yang diawali oleh perkembangannya ilmu akliah dan timbulnya madrasah, serta memuncaknya perkembangan kebudayaan Islam.
4)      Periode kemunduran Pendidikan Islam, yaitu sejak jatuhnya Baghdad sampai jatuhnya Mesir ke tangan Napoleon, yang ditandai dengan runtuhnya sendi-sendi kebudayaan Islam dan perpindahnya pusat-pusat pengembangan kebudayaan kedunia Barat.
5)      Periode [pembaharuan Pendidikan Islam yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh Napoleon sampai masa kini, yang ditrandai oleh gejala-gejala kebangkitan kembali umat dan kebudayaan Islam.
Selanjutnya, Pendidikan Islam sebagai sebuah sistem adalah suatu kegiatan yang di dalamnya mengandung aspek tujuan, kurikulum, guru, metode, pendekatan, sarana prasarana, lingkungan, administrasi, dan sebagainya yang antara satu dan lainnya saling berkaitan dan membentuk suatu system yang terpadu. Dari berebagai aspek pendidikan demikian selanjutnya telah membentuk berbagai disiplin ilmu Pendidikan Islam, yaitu Ilmu yang membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan pendidikan, dan dari keadaan yang demikian itulah selanjutnya dibuka Fakultas Tarbiyah pada seluruh Institut Agama Islam Negri (IAIN) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Kedua, Pengetahuan filsafat, yaitu pengetahuan tantang objek-objek yang abstrak logis, diperoleh dengan berpikir, dan teori-teorinya bersifat logis dan hanya logis
C.       Model Penelitian Ilmu Pendidikan Islam
Dilihat dari segi objek kajiannya, Ilmu Pendidikan dapat dibagi kepada tiga bagian. Pertama, ada pengetahuan Ilmu, Yaitu pengetahuan tentang hal-hal atau objek-objek yang empiris, diperoleh dengan melakukan penelitian ilmiah, dan teori-teorinya bersifat logis dan empiris. Penguji teorinya pun diukur secara logis dan empiris. Bila logis dan empiris, teori ilmu itu benar, dan inilah yang selanjutnya disebut Science.
(tidak empiris).
Ketiga, pengetahuan Mistik, yaitu pengetahuan yang objek-objeknya tidak bersifat empiris, dan tidak pula terjangkau oleh logika
Selanjutnya, untuk lebih jelasnya mengenai model penelitian pendidikan Islam ini akan dikemukakan beberapa contoh sebagai berikut.
1.       Model Penelitian Tentang Problema Guru
Dalam usaha memecahkan problema guru, Himpunan Pendidikan Nasional (Nasional Education Association) di Amerika Serikat pernah mengadakan penelitian tentang problema yang dihadapi guru secara Nasional pada tahun 1968. Dan metode yang digunakan pada hal tersebut adalah metode survey, yaitu penelitian yang sepenuhnya didasarkan pada data yang dijumpai dilapangan, tanpa didahului oleh kerangka teori, asumsi atau hipotesis. Penelitian tersebut menggunakan data lapangan yang dikumpulkan  melalui instrument pengumpulan data, yaitu kuesioner (alat survey yang berupa pertanyaan) yang sempelnya mewakili tingkat nasional, dan objek yang diteliti adalah problema yang dihadapi guru dengan kuesioner yang dibuat terdiri dari 17 macam pertanyaaan.
Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah dijumpainya 5 aspek pokok yang menyangkut kondisi dan kompensasi tugas mengajar guru. Adapun 5 aspek pokok (top ranking aspect) tersebut berkenaan dengan: 1). Sedikitnya waktu untuk istirahat dan untuk persiapan pada waktu dinas di sekolah. 2). Ukuran kelas yangterlalu besar. 3). Kurangnya bantuan administrative. 4). Gaji yang kurang memadai. 5) kurangnya bantuan kesejahtraan, yang mana diantara 5 problematika tersebut, maka nomor 1 mendapatkan mendapatkan presentase terbesar sebagai problema major pada kedudukan 37,6% dari jawaban guru-guru, sedangkan yang menganggap sebagai problema minor mencapai 34,4%.
2.       Model Penelitian Tentang Lembaga Pendidikan Islam
Salah satu penelitian yang berkenaan dengan lembaga pendidikan Islam adalah penelitian yang dilakukan oleh Karel A. Steenbrink
Metode penelitian yang dilakukannya adalah pengamatan (observasi). Sedangkan objek pengamatannya adalah sejumlah pesantren yang berada di Jawa dan Sumatra. Antara lain ia mengunjung beberapa hari sampai satu Minggu pesantren Pelamonan, Cibeber, Citangkil, Parabek Dll, yangmana kunjungan ke sejumlah pesantren tersebut memakan waktu kurang lebih 8 bulan. Salah satu hasil pengamatannya dalam pesantren tresebut  ternyata kehidupan dalam pesantren tidak begitu mahal
3.       Model Penelitian Kultur Pendidikan Islam
Penelitian yang mengambil objek kajian tentang kultur pendidikan Islam khususnya yang ada di pesantren, antara lain dilakukan oleh Mastuhu dan Zamaksyari Dhofir. Untuk mengenal model penelitian yang dilakukan oleh ke dua peneliti ini dapat dikemukakan sebagai berikut.

a.        Model Penelitian Mastuhu
Penelitian yang bertemakan Kultur Pendidikan Isam yang ada di pesantren dilakukan Mastuhu pada saat menulis disertasi untuk program doctor. Penelitian yang dimaksud berjudul Dinamika system pendidikan opesantren, yang mana penelitian tersebut dituangkan dalam lima bab, yaitu bab tentang pendahuluan, tinjauan pustaka, kerangka dan metode, hasil dan pembahasan serta bab mengenai kesimpulan dan saran.
Pada bab pendahuluan peneliti mengemukakan latar belakang pemikiran yang berpijak pada tema disekitar hubungan antara pendidikan Nasional dan pembangunan Nasional.
Dari segi metodenya, peneliti ini menggunakan metode pendekatan grounded research yang mendasarkan analisisnya pada data dan fakta yang ditemui dilapangan, jadi bukan melalui ide-ide yang ditetapkan sebelumnya. Dan selanjutnya peneliti menentukan objek penelitiannya, yaitu sebanyak enam pesantren.
Pada bab kedua, peneliti itu mengungkapkan mengenai tinjauan pustaka yang berisi uraian tentang manusia dan kehidupan, system pendidikan yang meliputi aliran-aliran pendidikan, dan unsure-unsur system pendidikan; system pendidikan pesantren yang meliputi aliran-aliran pendidikan pesantren, kehadiran pesantren ditengah-tengah kehidupan masyarakat serta unsure-unsur system pendidikan pesantren.
Pada bab ketiga, penelitian itu mengemukakan tentang kerangka dan metode. Pada bagian ini dikemukakan tentang kerangka pemikiran yang berisi urutan pemikiran secara sistematik yang ada relevansinya dengan objek penelitian yang dituangkan dalam butir-butir pemikiran yang bersifat dasar dan pokok. Selanjutnya dikemukakan pula tentang pendekatan penelitian tersebut, yaitu pendekatan sosiologis, antropologis, dan fenomenologis inteaksi simbolis.

        Pada bagian berikutnya dikemukakan tentang langkah-langkah yang digunakan dalam grounded research, yaitu :
a.        Manakah kelompok-kelompok atau individu-individu penting yang harus diperbandingkan ? Langkah ini menghasilkan deskripsi.
b.       Apa persamaan dan perbedaan dari kelompok-kelompok tersebut ? Langkah ini menghasilkan katagori katagori.
c.        Apakah cicri-ciri penting dari setiap katagori ? Langkah ini menghasilkan sifat-sifat.
d.       Bagaimana katagori-atagori utama berhubungan antara satu dengan yang lain ? Langkah ini menghasilkan hipotesis-hipotesis.
e.        Bagaimana hipotesis-hipotesis itu berhubungan dengan yang lain ? Langkah ini menghasilkan teori akhir yang diperoleh.
Pada bagian alkhir bab tiga ini dikemukakan tentang ruang lingkup penelitian yang meliputi tujuan, filsafat dan tata nilai, struktur organisasi, lingkungan kehidupan pesantren dan segala sesuatu yang berkaitan dengan system dan prasarana pendidikan.
Setelah mengemukakan hasil dan pembehasan yang berkisar tentang arti pesantren, tujuan pesantren, masyarakat pesantren dan sebagainya, dan dan lainnya sebagaiman yang dikemukakan pada bab empat, akhirnya peneliti sampai kesimpulan yang dituangkan dalam bab lima. Kesimpulan ini pada intinya merupakan jawaban dari pertanyaan penelitian yang dikemukakan pada bab pendahuluan.
Selain dilengkapi daftar pustaka, penelitian ini juga dilengkapi dengan berbagai macam table yang ada relevansinya dengan tema penelitian.
b.       Model Penelitian Zamakhsyari Dhofier
Model penelitian yang dilakukan Zamakhsyari Dhofier masih disekitar pesantren. Penelitian yang dilakukannya berjudul Tradisi Pesantren Study Tentang Pandangan Hidup Kiyai, dan diterbitkan oleh LP3ES tahun 1982.
Sebagaimana halnya model penelitian yang dilakukan Mastuhu diatas, penelitian ini tidak menyebutkan secara Eksplisit tentang latar belakang pemikiran, pertanyaan penelitian, tujuan, ruang lingkup, metode, pendekatan, dan sebagainya sebagaimana lazimnya sebuah penelitian. Namun, jika dipelajari secara seksama, Nampak berbagai unsur yang ada dalam penelitian akan dijumpai dalam keterangan selanjutnya.
Pada bagian poendahuluan, misalnya dikemukakan bahwa keterangan ini ditulis berdasarkan studi lapangan, terutama atas dua buah lembaga pesantren yang dilakukan antara bulan September 1977 dan September 1978. Kedua pesantren itu ialah pesantren Tegal Sari dan Pesantren Tebu Ireng.
Pada bagian lain, keterangan tersebut mengatakan bahwa pada umumnya studi tentang Islam di Jawa ini menitik beratkan analisisnya pada segi pendekatan intelektual dan pendekatan theologo, hingga sering kali member kesimpulan yang ,meleset. Sebagai contoh, selama ini sering disimpulkan bahwa para Kiyai, karna sangat terikat oleh ajaran-ajaran kaum sufi dan mengamalkan Tariqat, dianggap telah mengamalkan Islam yang salah, Islam yang hanya mementingkan hidup Akhirat dengan melupakan kehidupan duniawi. Kesimpulan yang lebih Ekstrem lagi dari kaum intelektualis ialah, bahwa pengamal Tariqat membenci kehidupan duniawi.
Melalui penelitian ini dapat dihasilkan deskripsi tentang tradisi pesantren yang dituangkan dalam Bab-bab yang ada dalam buku tersebut. Bab I misalnya, membahas sifat-sifat umum dari system dan strutur pendidikan Islam tredisional di Jawa, yaitu pengajian dirumah-rumah kiayi, di Langgar, Masjid dan di Pesantren-pesantren yang dilengkapi dengan sejarah pesantren yang bersangkutan. Selanjutnya Bab II membahas elemen-elemen pesantren yang paling pokok yaitu pondok, Masjid, kitab-kitab Islam Klasik, Para santri, Dan Kiyai. Kemudian pada Bab III membahas tentang luasnya jaringan-jaringan aliansi perkawinan yang Endogamous dan tradisi Transmisi Intelektual dari pengetahuan Islam antara sesama atnggota Kiyai. Bab IV membahas dan meneliti pesantren serta menyediakan suatu gambaran kehidupan sehari-hari dari murid-murid pesantren, bagaimana mereka mendidik, pelajaran apa yang diberikan, dan jenis-jenis ritual keagamaan yang mereka lakukan setiap hari dan menguraikan pesantren. Bab V liam mengemukakan tentang bentuk Tariqat yang diamalkan oleh Kiyai sebagai sarana untuk mengembangkan ajaran-ajaran Islam dan memberikat kepemimpinan Keagamaan bagi orang tua. Selanjutnya Bab Vi membahas tentang paham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dan Bab VII meluakan kesimpulan dari studi tentang pesantren ini, yang membahas secara singkat kedudukan Kiyai dalam situasi sekarang dengan tujuan untuk menarik perhatian pembaca terhadap kenyataan bahwa karier lembaga-lembaga pesantren di Jawa sedang dalam proses perubahan dan transformasi, sebagai bagian dari kehidupan Indonesia modern.
Berdasarkan uraian di atas, maka model penelitian yang dilakukan Zamakhsyari Dofier tergolong penelitian lapangan dengan menggunakan metode srvei, pengamatan, wawancara, dan studi dokumentasi. Pembahasan bersifat deskriptif, sedangkan analisisnya menggunakan pendekatan sosiologis. Penelitian ini tampak hadir semodel dengan penelitian yang dilakukan oleh Mastuhu. Kedua peneliti tersebut tergolong kaum pembaharu. Mereka berdua kelihatannya ingin mengetahui seberapa jauh tradisi dan nilai-nilai yang diberlakukan di pesantren masih ada yang cocok untuk masyarakat modern saat ini, dan sejau8h mana tradisi dan nilai-nilai yang tidak cocok lagi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar