Welcome to My Blog........

Kami akan membantu anda untuk menjadi orang sukses, trust it..!!!

Kamis, 29 Desember 2011

Model-Model Penelitian Tasawwuf


A.    Pengertian Tasawuf
Dari segi kebahasaan, (linguistik) terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya menyebutkan lima istilah yang berhubungan dengan tasawuf, Yaitu Al-suffah(ahl al-suffah) yaitu orang yang ikut pindah dengan Nabi dari mekkah ke madina,Saf yaitu barusan yang dijumpai dalam melaksankan sholat berjama’ah, Sufi yaitu suci dan bersih, sophos (bahasa yunani:hikmah), dan suf (kain wol kasar).
Sealin pengertian tasawuf dapat di lihat dari kebahasaan sebagaimana disebut di atas, Juga dapat dilihat dari segi istilah. Dalam kaitan ini terdapat tiga sudut pandang yang digunakan para ahli untuk mendefinisikan tasawuf. Pertama, Ssudut pandang manusia sebagai mahluk terbatas; Kedua sudut pandang manusia sebagai mahluk yang harus berjuang; Ketiga, Sudut pandang manusia sebagai mahluk bertuhan.
Tasawuf atau sufisme adalah salah satu dari jalan yang dilektakkan tuhan  didalam lubuk islam dalam rangkah menjukkan mungkinnya pelaksanaan kehidupan rohani bagi jutaan manusia yang sejati yang telah berabad-abad mengikuti dan terus mengikuti agama yang di ajarkan Alquran.
Dengan menempatkan pengertian yang proporsional sebagaimana yang disebutkan di  atas, tampak tasawuf tidak mengesankan keterbelakangan, kemunduran, atau semacamnya,melainkan memperlihatkan ketangguhan jiwa dalam berbagai problema hidup yang senantiasa datang sili berganti.
B.     Model-model penilitian tasawuf
Sejalan dengan fungsi dan peran tasawuf yang demikian itu, dikalangan para ahli telah timbul upaya untuk melakukan penelitian tasawuf. Bebrbagai bentuk dan model penelitian tasawuf secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut.

1.      Model Sayyed Husein Nasr
Sayyed Husein nasr selama ini dikenal dengan ilmuan muslim kenamaan di abad modern yang amat produktif dalam melahirkan sebagai karya ilmiah. Perhatiannya terhadap pengembangan terhadap studi Islam demikian besar, termasuk dalam bidang tasawuf. Hasil dalam bidang tasawuf iya sajikan dalam buku berjudul tasawuf dulu dan sekarang yang diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M. dan diterbitkan pustaka firdaus, jakarta tahun 1985. Didalam buku tersebut disajikan hasil penelitiannya dibidang tasawuf dengan menggunakan pendekatan-pendekatan tematik, yaitu pendekatan yang mencoba menyajikan tasawuf sesuai dengan teman-teman tertentu. Diantaranya urain tentang visi tasawuf dengan pengutuhan manusia. Didalamnya dinyatakan bahwa tasawuf merupakan sarana untuk menjalin hubungan yang intens dengan tuhan dengan upaya mencapai keutuhan manusia. Selanjutnya, dikemukakan pula tentang tingkatan-tingkatan kerohanian tentang tasawuf, manusia didalam kelanggengan ditengah perubahan yang tampak. Setelah itu dikemukakan pula perkembangan tasawuf yang terjadi pada abad ke-tuju.
Dari uraian singkat diatas terlihat bahwa motif penelitian tasawuf yang diajukan Sayyed Husein Nasr adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan tematik yang berdasarkan pada studi kritis terhadap ajaran tasawuf yang pernah berkembang dalam sejarah.
2.      Model Mustafa Zabri
Mustafa Zabri memusatkan perhatiannya terhadap tasawuf dengan menulis buku dengan judul kunci memahami ilmu tasawuf diterbitkan oleh bina ilmu, Surabaya, tahun 1995. Penelitian yang dilakukannya bersifat eksploratif, yakni menggali ajaran tasawuf dari berbagai literatur ilmu tasawuf. Dalam bukunya yang berjumlah 26 tersebut, disajikan tentang kerohanian yang didalam dimuat tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, kunci mengenal tuhan, sendi kekuatan batin, fungsi kerohanian dalam menentramkan batin, tarekat dari segi arti dan tujuannya. Selanjutnya, dikemukakan tentang membuka tabir (hijab) yang membatasi diri dengan tuhan dzikrullah, istighfar dan bertubat, do’a, waliyullah, keramat, mengenal diri sebagai cara untuk mengenal tuhan, makan laila illa Allah, hakikat pengearatian tasawuf catatan sejarah pengembangan tasawuf dan ajaran tentang ma’rifat. Dengan demikian penlitian tersebut semata-mata bersifat eksploratif yang menekankan pada ajaran yang terdapat pada ajaran tasawuf berdasarkan literatur yang ditulis para ulam terdahulu seta dengan mencari sandaran-sandaran pada Alquran dan hadits.
3.      Model Kutsar Azhari Noor
Kutsar Azhari Noor selaku dosen pada fakultas ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam rangka penulisan disertasinya memusatkan perhatian pada penelitian tasawuf. Terlihat bahwa penilituhan yang ditempuh Kutsar Azhari Noor adalah studi tentang toko dengan paham yang khas, Ibn Arabi dengan pahamnnya wahdat al-wujud. Penelitian ini cukup menarik karena  dilihat dari segi paham yang dibawakannya, yaitu wahdat al-wujud telah menimmbulkan kontrofersi dikalangan ulamak, karena paham tersebut di nilai membawa paham reinkarnasi, atau paham serba tuhan, yakni tuhan menjelma dalam berbagai ciptaannnya.
4.      Model  Harun Nasution
Harun Nasution, guru besar dalam bidang teologi dan filsafat islam juga menaruh perhatian terhadap penititian didang tasawuf. Hasil penilitiannya dalam bidang tasawuf ia tuangkan antara lain dalam bukunya berjudul  falsafat dan mistisme dalam islam, yang terbitkan oleh bulan bintang, Jakarta, tahun 1973. Penelitian yang dilakukan  oleh Harun Nasution pada bidang tasawuf ini mengambil pendekatan  tematik, yakni peyajian ajaran tasawus disajikan dalam tema jalan untuk dekat pada tuhan, zuhud, dan station-­station, Al-Mahabbah, al-ma’rifah, al-fana’, al-ittihat, al-hulul dan wahdat al-wujud. Pada setiap topik tersebut selain dijelaskan tentang isi ajaran dari tiap topik tersebut dengan data-data yang didasarkan pada literatur kepustakaan, juga dilengkapi dengan tokoh yang memperkenalkannya. Salain itu Harun Nasution mencoba mengemukakan latar belakang sejarah timbulnya paham tasawuf dalam Islam.
`Penelitian yang menggunakan pendekatan tematik tersebut terasa lebih menarik karena langsung menuju kepada persoalan tasawuf dibandingkan dengaan penddekatan yang bersifat tokoh. Penelitian tersebut sepenuhnya bersifat deskriptif eksploratif, yakni menggambarkan ajaran sebagaimana adanya dengan mengemukakannya sedemikian rupa, penelitian mengemukakan apa adanya dengan sedikit melakukan perbandingan  antara satu ajaran dengan ajaran tasawuf lainnya, namun hal ini pun  bukan ditujuhkan untuk mencari kelebihan  dan kekurangan dari ajaran –ajaran tersebut.

5.      Model A.J.Arberry
A.J.Arberry, salah seorang peneliti Barat kenamaan, banyak melakukan studi keislaman, termasuk penelitiaan dalam bidang tasawuf. Dalam bukunya berjudul pasang surut aliran tasawuf. A.J.Arberry mencoba menggunakan pendekatan kombinasi, yaitu antara pendekatan tematik dengan pendekatan tokoh. Denagan pendekatan demikian ia coba kemukakan tentang firman Tuhan, kehidupan Nabi, Para zahid, para sufi, para ahli teori tasawuf, struktur tasawuf serta runtuhnya aliran tasawuf. Dari isi penilitihan tersebut, tampak bahwa A.J.Arberry menggunakan analisis kesejarahan, yakni berbagai tema tersebut dipahami berdasarkan kontek sejarahnya, dan tidak dilakukan proses aktualisasi nilai atau mentrasformasikan ajaran-ajaran tersebut  kedalam makna kehidupan modern yang lebih luas.
            Jika penelitian-penelitian tersebut di atas bersifat penilitihan deskriptif, sebelumnya penelitian dalam bidang tasawuf yang di lakukan oleh Abi Al-qasim Abdul  Karim Hawaran Al-Naisabury yang berjudul Al-risalah Al-qusyairiyah fi ‘ilm al-tasawuf yang ditahkik oleh Ma’ruf Zarin dan Ali Abd Al-Hamid Balthaji. Diterbitkan oleh Dar Al-Khair tanpa tahun. Dan berdasarkan pada ayat-ayat Alquran dan Alhadits dan pendapat para ulama al-Qusyairi dalam bukunya itu antara lain menyajikan tentang asal-usul tauhid menurut kaum sufi, yaitu ma’rifatullah dan sifat-sifatya, keimanan, rezeki, kekufuran, Al-Aray dan kebenaran Allah SWT.
            Penelitian demikian dilakukan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulum Al-Din Jilid Iii dalam kitab tersebut antara lain dikemukakan kitab tentang keajaiban hati, kitab cara melatih dan  mendidik jiwa kitab cara mengendalikan syahwat, kitab sifat-sifat lalai pada manusia dan lain sebagainya. Kitab ini cukup dikalangan pesantren dan telah mewarnai kehidupan para santri sedemikian rupa, sehingga akhlak para santri pada umumnya menjadi baik patuh dan tunduk pada tuhan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar